MengEmaskan Sampah Untuk Indonesia

— Bergabunglah dalam gerakan nasional untuk mengelola sampah dengan bijak, mendukung ekonomi sirkular, dan menjaga lingkungan. Bersama-sama, kita bisa menciptakan masa depan yang lebih bersih dan sejahtera. Mari kita MengEMASkan Sampah Untuk Indonesia!

Kegiatan Terbaru

Kami dengan bangga mengumumkan kegiatan terbaru dari program "MengEMASkan Sampah Untuk Indonesia"!

FORSEPSI Menjadi Narasumber Pengelolaan Sampah di Ibu Kota Nusantara (IKN)

Upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak bisa hanya bertumpu pada infrastruktur. Ia membutuhkan perubahan perilaku, desain sistem yang matang, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Inilah semangat yang terasa kuat dalam kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026. Pada Kamis, 5 Februari 2026, FORSEPSI (Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia) binaan Pegadaian dipercaya menjadi narasumber dalam kegiatan sosialisasi bertajuk "Memilah Sampah, Menabung Emas" yang berlangsung di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kegiatan ini dihadiri oleh bank sampah se-IKN serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang selama ini menjadi simpul penting penggerak masyarakat di tingkat tapak. NGOBRAS: Sampah Jadi Emas, dari Narasi ke Praktik Sesi kedua dilanjutkan dengan talkshow NGOBRAS (Ngobrol Santai) bersama FORSEPSI, Mayora, dan Plasticpay, mengangkat tema "Memilah Sampah Jadi Emas" yang menyasar 1.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) di IKN. Talkshow ini turut dihadiri oleh Deputi Area Kalimantan dan Kantor Wilayah Balikpapan, menandai kuatnya dukungan lintas pemangku kepentingan. Diskusi ini tidak berhenti pada ajakan normatif. Peserta diajak memahami bahwa sampah bernilai ekonomi jika dikelola dengan sistem yang benar---mulai dari pemilahan, pengumpulan, pencatatan, hingga insentif yang jelas dan adil. Skema tabungan emas menjadi contoh konkret bagaimana perilaku ramah lingkungan dapat terhubung langsung dengan manfaat ekonomi bagi individu. Menjadi sebuah kehormatan bagi FORSEPSI, tidak hanya dipercaya sebagai narasumber, tetapi juga dilibatkan dalam penyusunan grand design sistem pengelolaan sampah di kompleks ASN IKN berbasis tabungan emas. Keterlibatan ini menunjukkan pengakuan terhadap pengalaman FORSEPSI dalam mendampingi bank sampah di berbagai wilayah Indonesia, dari kota besar hingga pulau-pulau kecil. Grand design ini diharapkan mampu membangun sistem yang terintegrasi: menghubungkan rumah tangga ASN, bank sampah, offtaker, dan mekanisme insentif yang berkelanjutan. Bukan sekadar mengelola sampah, tetapi membangun ekosistem ekonomi sirkular yang berpihak pada pelaku di lapangan. Kolaborasi antara OIKN, FORSEPSI, dan mitra strategis lainnya menjadi sinyal penting bahwa pengelolaan sampah di IKN tidak diletakkan sebagai urusan pinggiran. Ia diposisikan sebagai bagian dari desain kota masa depan: terintegrasi, berkelanjutan, dan berdampak nyata. Bagi FORSEPSI, keterlibatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa gerakan bank sampah---yang tumbuh dari masyarakat---memiliki peran strategis dalam kebijakan nasional. Dari edukasi di tingkat warga hingga kontribusi dalam perencanaan kota, bank sampah bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari solusi sistemik pengelolaan lingkungan di Indonesia.

FORSEPSI Gelar Ngobrol Pintar Seri #3: Dari Sosial Menuju Bisnis Sosial: Bank Sampah dan Jalan Panjang Keberlanjutan

Ngobrol Pintar Soal Sampah Bareng FORSEPSI Edisi #3 (10 Oktober 2025) kembali menghadirkan ruang belajar kolektif bagi para pegiat Bank Sampah binaan Pegadaian di seluruh Indonesia. Topik kali ini terasa begitu penting dan realistis: “Membangun Keberlanjutan Bank Sampah Melalui Pendekatan Bisnis Sosial.” Dari Sosial, Menuju Sosial yang Lebih Kuat Forum dibuka dengan pengantar dari moderator yang menegaskan realitas: banyak Bank Sampah berdiri dengan semangat sosial, namun tidak sedikit yang kesulitan bertahan karena lemahnya aspek finansial dan keberlanjutan manajemen. Fikri Aswan, Founder Wastepreneur.id, yang menjadi narasumber utama, mengajak seluruh peserta untuk memahami bahwa keberlanjutan Bank Sampah tidak cukup hanya dengan niat baik. “Kita harus menyeimbangkan hati dan hitung-hitungan,” ujarnya santai namun tegas. Menurutnya, Bank Sampah yang sehat harus berani mengadopsi pola pikir bisnis sosial: tetap berpihak pada masyarakat dan lingkungan, namun juga memiliki kemampuan finansial agar bisa bertahan dan berkembang. Tanya Jawab: Realitas di Lapangan Sesi tanya jawab menjadi momen paling hidup dalam diskusi kali ini. Beberapa pengurus Bank Sampah berbagi pengalaman nyata mereka. Islamiyah dari BS Srikandi mengeluhkan betapa sulitnya menjual hasil olahan karena volume kecil. “Pabrik maunya ton-tonan,” ujarnya. Fikri menanggapi, “Tidak ada batasan Bank Sampah harus RW. Perluas saja jangkauannya. Kalau pemulung bisa kerja tiap hari, mengapa Bank Sampah tidak bisa lebih aktif?” Pak Musrofin dari BS Ngalam Waste menyampaikan harapan agar harga bisa lebih stabil. Fikri menekankan pentingnya gudang dan manajemen sehat. Gudang menjadi kunci agar Bank Sampah bisa menyimpan material dan menjual saat harga naik. “Pendekatan bisnis bukan berarti meninggalkan sosial, tapi agar edukasi dan sosialnya punya ‘bensin’ untuk jalan terus,” katanya. Rey Tumilaar dari BSI Kuntung Manado menyoroti pentingnya armada dan penjemputan, sebab inilah yang memotivasi warga untuk memilah sampah. Namun di sisi lain, pemerintah seakan belum hadir secara penuh. Diana dari BS Muria Kudus bercerita tentang tantangan perempuan pengurus yang harus berjuang di tengah keterbatasan armada. “Kami lintas kecamatan, tapi masih susah untuk menembus pabrik daur ulang,” ungkapnya. Sedangkan Cak Mad dari BSI Jember menegaskan prinsipnya: “Manajemen harus sehat — nasabah, Bank Sampah, dan mitra harus saling untung.” Dari Lombok Timur, Lalu Supratman dari BS Syuhada memberi contoh inspiratif. 90% hasil usaha mereka digunakan untuk membantu anak yatim dan jompo. “Kami memang sosial, tapi inilah bentuk keberkahan yang ingin kami rawat,” katanya haru. Sementara Ibu Indayati dari BS Merauke menyampaikan realitas yang getir namun jujur: “Berbahagialah yang tinggal di Jawa. Kami di timur susah mencari orang yang mau kerja sosial. Tapi kami tetap semangat, karena pekerjaan ini adalah panggilan hati.” Refleksi: Bank Sampah, Tentang Orang, Kebersamaan, dan Harapan Diskusi ini menegaskan bahwa Bank Sampah bukan hanya tentang botol dan kardus, melainkan tentang manusia: tentang bagaimana sekelompok orang rela menyisihkan waktu, tenaga, dan emosi untuk menjaga bumi. Namun sebagaimana pepatah lama mengatakan: “Cinta saja tidak cukup.” Agar cinta pada bumi terus menyala, Bank Sampah perlu punya sumber daya yang stabil. Maka, pendekatan bisnis sosial menjadi jembatan: antara idealisme dan realitas, antara niat dan keberlanjutan. Fikri menutup sesi dengan kalimat yang menggugah, “Jiwa sosial itu langka, tapi kalau mau terus hidup, kita harus belajar fokus ke bisnis. Bisnis ini tidak untuk memperkaya diri, tapi bagaimana Bank Sampah menjadi lebih berkembang.” Catatan Akhir: FORSEPSI melalui seri “Ngobrol Pintar” ini sekali lagi menunjukkan perannya sebagai wadah pembelajar yang hangat dan membumi. Tidak ada paksaan bagi Bank Sampah untuk berubah arah, tapi bagi mereka yang ingin bertumbuh, jalur bisnis sosial bisa menjadi pijakan baru untuk menyeimbangkan keberlanjutan lingkungan, sosial, dan ekonomi. Karena pada akhirnya, Bank Sampah bukan hanya tentang sampah. Ini tentang manusia yang belajar memelihara bumi: dengan cinta, dengan akal, dan dengan cara yang berkelanjutan.

FORSEPSI Gelar Ngobrol Pintar Seri #2: Kupas Strategi Efektif Edukasi Sampah di Masyarakat

Edukasi pengelolaan sampah masih dipahami sebatas sosialisasi singkat, penyuluhan sesaat, atau kegiatan seremonial. Padahal, mengubah kebiasaan masyarakat membutuhkan pendekatan yang jauh lebih strategis. Hal inilah yang diangkat dalam Pelatihan FORSEPSI Seri #2 pada Minggu, 28 September 2025, yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom. Lebih dari 100 peserta dari berbagai Kanwil Pegadaian hadir, melanjutkan semangat diskusi dari seri pertama. Jika seri awal menyoroti SOP dan laporan keuangan, maka sesi kedua ini bergerak ke jantung gerakan bank sampah: edukasi sebagai penggerak perubahan perilaku. Edukasi: Proses, Bukan Sekadar Penyuluhan Dalam penyampaian materi utama, edukasi dijelaskan bukan sebagai kegiatan berbagi informasi semata, melainkan proses pembelajaran yang membangun pemahaman, potensi, dan perubahan sikap. Banyak bank sampah telah berdiri, tetapi masih menghadapi tantangan partisipasi warga. Tanpa edukasi yang efektif, gerakan mudah jalan di tempat. Edukasi dipandang sebagai cara memperkuat dukungan masyarakat, memperkenalkan manfaat tabungan emas, dan mempercepat perubahan perilaku. Peran edukator pun tidak sebatas penyampai materi: mereka menjadi fasilitator, perancang program, dan teladan dalam aksi. Edukasi: Proses, Bukan Sekadar Penyuluhan Dalam penyampaian materi utama, edukasi dijelaskan bukan sebagai kegiatan berbagi informasi semata, melainkan proses pembelajaran yang membangun pemahaman, potensi, dan perubahan sikap. Banyak bank sampah telah berdiri, tetapi masih menghadapi tantangan partisipasi warga. Tanpa edukasi yang efektif, gerakan mudah jalan di tempat. Edukasi dipandang sebagai cara memperkuat dukungan masyarakat, memperkenalkan manfaat tabungan emas, dan mempercepat perubahan perilaku. Peran edukator pun tidak sebatas penyampai materi: mereka menjadi fasilitator, perancang program, dan teladan dalam aksi. Strategi yang Realistis dan Bisa Diterapkan Materi pelatihan mengupas bagaimana edukasi bisa dirancang sesuai kondisi lapangan. Dimulai dari penentuan tujuan, pemetaan penerima manfaat, penyusunan materi yang relevan, hingga target perubahan yang diharapkan. Pendekatan untuk anak-anak tentu berbeda dengan komunitas umum atau instansi, dan tingkat kesiapan audiens juga menentukan teknik penyampaiannya. Metode edukasi yang disarankan tidak kaku: bisa melalui testimoni, simulasi, permainan, cerita konkret, diskusi terbuka, atau keterlibatan tokoh publik. Prinsip pentingnya adalah komunikasi dua arah, tidak menggurui, serta peka terhadap kebutuhan audiens. Beberapa praktik baik yang dibagikan mencakup kolaborasi dengan pemerintah melalui MoU, kampanye kreatif di ruang publik, dan penguatan komitmen kolektif di tingkat dusun atau sekolah. Komitmen Penguatan Gerakan Dalam sesi arahan, FORSEPSI menyampaikan target besar yaitu mengembangkan jumlah bank. Namun perluasan ini tidak hanya soal angka, tetapi juga bagaimana memastikan kualitas tata kelola, pelaporan, dan keberlanjutan kegiatan. Kolaborasi dengan BUMN, akademisi, masyarakat, dan pemerintah menjadi fokus penguatan. Peluang kemitraan dengan TPA, isu karbon offset, dan literasi sirkular ekonomi mulai dibahas sebagai ruang baru yang perlu dijelajahi. Dukungan PT Pegadaian pun ditegaskan, termasuk adanya target KPI khusus pada 2026 mengenai tata kelola dan pendampingan bank sampah. Kemitraan antara Pegadaian dan FORSEPSI ditegaskan sebagai hubungan saling menguatkan, bukan sekadar program CSR.

Tujuan

Dampak Positif dengan Adanya FORSEPSI

FORSEPSI adalah wadah bagi para penggiat lingkungan, komunitas peduli lingkungan, dan Bank Sampah binaan PT Pegadaian untuk bersama-sama mengatasi krisis sampah di Indonesia.

Peningkatan Kesadaran Lingkungan

Dengan edukasi yang intensif dan berkelanjutan, FORSEPSI berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Kampanye dan program edukasi yang dilakukan secara konsisten membantu mengubah perilaku masyarakat untuk lebih peduli dan aktif dalam pengelolaan sampah.

Penerapan Pengelolaan Sampah yang Efektif

FORSEPSI mendorong penerapan praktik pengelolaan sampah yang efektif dan efisien. Melalui kolaborasi dengan Bank Sampah dan komunitas peduli lingkungan, FORSEPSI membantu masyarakat memahami cara memisahkan, mendaur ulang, dan mengolah sampah dengan benar.

Dukungan Terhadap Kebijakan Pemerintah

FORSEPSI berperan aktif dalam mendukung dan mendorong implementasi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2021. Dengan menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah, FORSEPSI mempercepat pelaksanaan kebijakan terkait pengelolaan sampah.