Silaturahmi selalu punya cara sederhana namun kuat untuk menyatukan energi. Itulah yang terasa dalam kegiatan Halalbihalal & Silaturahmi FORSEPSI bersama PT Pegadaian yang diselenggarakan pada Sabtu, 28 Maret 2026 secara daring.
Sebanyak 127 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam ruang virtual yang hangat. Bukan sekadar temu kangen pasca-Ramadhan, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kolaborasi antara bank sampah dan Pegadaian sebagai mitra strategis.
Silaturahmi yang Tidak Sekadar Seremonial
Dalam sambutannya, Bapak Jainudin selaku Kepala Divisi ESG PT Pegadaian menegaskan bahwa hubungan antara Pegadaian dan FORSEPSI bukan sekadar hubungan program, tetapi kemitraan yang harus terus dirawat. Hubungan harmonis antara bank sampah dengan Pegadaian Cabang menjadi kunci keberhasilan di lapangan.
Di beberapa daerah, kolaborasi ini sudah berjalan sangat baik—ditandai dengan dukungan nyata dari cabang Pegadaian, mulai dari fasilitasi kegiatan, komunikasi yang intens, hingga kehadiran langsung dalam kegiatan edukasi masyarakat.
Namun di sisi lain, diskusi juga secara jujur mengangkat bahwa masih ada wilayah yang perlu memperkuat komunikasi dan membangun kepercayaan dengan cabang Pegadaian setempat. Di sinilah pentingnya peran pengurus bank sampah untuk aktif menjalin hubungan, bukan hanya menunggu.
Dukungan Nyata: Dari Tenda hingga Kolaborasi Program
Menariknya, dalam sesi diskusi terungkap berbagai bentuk dukungan konkret yang selama ini sudah diberikan. Mulai dari bantuan sederhana seperti peminjaman tenda untuk kegiatan edukasi, hingga peluang kolaborasi dengan pihak lain seperti dukungan kegiatan bersama mitra perusahaan.
Hal-hal kecil seperti ini seringkali menjadi “bahan bakar” penting bagi gerakan di akar rumput. Karena bagi pegiat bank sampah, dukungan operasional sekecil apapun bisa berdampak besar terhadap keberlanjutan kegiatan.
Diskusi juga menyinggung peluang kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan brand atau perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Ini membuka ruang bahwa bank sampah tidak hanya bergerak sendiri, tetapi bisa menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas.
Penguatan Legalitas dan Kelembagaan
Isu lain yang juga cukup banyak dibahas adalah terkait legalitas dan kelembagaan, termasuk pentingnya Surat Keputusan (SK) sebagai dasar pengakuan formal.
Legalitas ini bukan hanya soal administrasi, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk:
- menjalin kerja sama resmi,
- mengakses dukungan program,
- hingga membuka peluang pembiayaan.
Bank sampah yang memiliki struktur dan legalitas yang jelas akan lebih mudah dipercaya, baik oleh pemerintah, mitra, maupun sektor swasta.
Menjaga Semangat di Tengah Tantangan
Dalam suasana yang santai namun bermakna, para peserta juga saling berbagi tantangan yang dihadapi di lapangan. Mulai dari dinamika pengurus, keterbatasan fasilitas, hingga tantangan menjaga konsistensi nasabah.
Namun satu hal yang terasa kuat: semangat untuk terus bergerak tidak pernah padam.
Silaturahmi ini justru menjadi pengingat bahwa setiap bank sampah tidak berjalan sendiri. Ada jaringan besar yang saling mendukung, saling belajar, dan saling menguatkan.
Menutup dengan Harapan Bersama
Kegiatan ini ditutup dengan pesan sederhana namun kuat: bahwa kolaborasi adalah kunci.
Pengelolaan sampah bukan pekerjaan satu pihak. Ia membutuhkan kerja bersama—antara masyarakat, komunitas, pemerintah, dan sektor swasta.
FORSEPSI dan Pegadaian telah menunjukkan bahwa kolaborasi itu nyata dan terus bertumbuh.
Dari ruang Zoom sederhana, lahir energi besar untuk terus bergerak.
Karena pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan hanya tentang sampah—tetapi tentang masa depan lingkungan, ekonomi, dan kehidupan kita bersama.
Bidang Publikasi & Komunikasi FORSEPSI